Kisah Nyata Yustivianus Mangunsong yang Paksa Anak Istri Minum Racun

Awalnya Septa berharap suaminya bisa menjadi tempat berlindung baginya, menjadi sahabat, bisa bertukar pikiran, tapi hal itu tidak didapatkan oleh suaminya. Tidak hanya kurang menghargai, bahkan suaminya melecehkannya.

“Istri saya sangat menjaga jarak, jadi komunikasi kami nyaris berhenti. Sekalipun kami satu rumah, tapi kami beda kamar,” ujar Yustivianus Mangunsong.

Sebelum menikah, Yustivianus membenci kedua orangtuanya. “Setiap melakukan hal baik tidak ada pujian. Begitu ada yang salah, selalu ada hukuman.” Tidak hanya itu, Yustivianus pun akhirnya hidup dalam pergaulan yang tidak baik, dia besar di jalanan, berhubungan seks bebas, berjudi, merokok, mabuk-mabukan pun dijalaninya.

“Saya kurang menghargai, saya tak punya teladan bagaimana menjadi suami dan ayah (yang baik), karena saya tidak pernah mengalami hal itu. Sehingga di dalam pernikahan saya. Apa yang saya anggap baik itu yang saya lakukan sehingga melukai hati istri saya.” Cerita Yustivianus.

Tidak tahan dengan hal tersebut, Septa ingin bercerai. Tapi Yustivianus malah mencekokinya dan anak-anak racun serangga. “Saya ancam saja agar istri tidak berani ngomong seperti itu lagi.”

Selama tujuh tahun menikah, tahun 2001 akhirnya Yustivianus pun melakukan hal yang paling dibenci olehnya saat papanya memperlakukan hal yang sama kepada mamanya. Dia pun memukul istrinya. Akibat perbuatannya, dia pun diinterogasi oleh polisi.

“Saya sangat kecewa dengan istri saya, apalagi sampai ke polisi. Saya malu sekali. Tapi kemudian saya hanya bisa pasrah, karena kemudian saya menyesal dengan sikap saya.” ujar Yustivianus.

Septa menangis dan merasa tak kuat lagi meneruskan pernikahannya. Saat dia sedang berdoa, dia melihat seorang wanita yang compang-camping dan kotor. Dia merasa itulah dirinya. Saat itu juga dia meminta maaf pada Tuhan dan pada suaminya. Dia menelepon suaminya di kantor.

“Pa, aku minta maaf,” cerita Yustivianus meniru perkataan Septa waktu itu.

“Saya sempat diam, saya tidak percaya ini yang berbicara istri saya atau tidak. Karena suara yang lembut itu tidak pernah saya dengar kecuali waktu pacaran dulu,” ujarnya lagi.

Yustivianus pun mengikuti salah satu seminar mengenai sosok pria sejati dan di situlah dia mendapatkan pemahaman baru yang tidak pernah dia dapatkan dulu. “Apa yang terjadi dulu adalah kesalahan saya. Dulu saya tidak anggap itu kesalahan saya, saya anggap itu kesalahan istri saya yang terlalu banyak menuntut. Bahkan saya terlalu banyak menyakiti dia, menghakimi dia, “kamu ga pernah begini, kamu nggak pernah begini,” itu semua kesalahan saya.”

“Ketika saya dipulihkan, saya minta maaf dan mulai bertindak. Istri saya disembuhkan, istri saya dipulihkan dan hubungan kami begitu manis.” ceritanya lagi.

Kini mereka dapat berkomunikasi dengan baik, Yustivianus dapat menjadi seorang pendengar yang baik buat istrinya. “Tidak ada yang mustahil di hadapan Tuhan, Tuhan bisa persatukan kita, bahkan mengikat kita dengan tali kasih-Nya dan kita bisa saling mengasihi dan melayani.” ujar Septa.

“Kasih adalah keputusan, bukan perasaan. Kalau kamu mengasihi dengan perasaan, kamu akan membenci. Tapi kalau kasih adalah keputusan, sekalipun kau disakiti, dilukai, dikecewakan, engkau tetap akan bisa mengasihi.” ujar Yustivianus tentang pelajaran yang dia dapatkan di dalam seminar itu.

“Saya tahu kalau bukan Tuhan yang pulihkan rumah tangga saya, saya sekarang tidak lagi bersama istri dan anak-anak saya. Sebab saya tahu persis tidak ada satupun yang membuat kita bersatu. Semua sudah hancur, tidak ada‚Ķ”

Yustivianus tidak pernah membayangkan akan mempunyai rumah tangga yang indah dan penuh kasih. Begitu pula Septa tak pernah menyangka. Hanya Yesus yang sanggup pulihkan rumah tangga mereka, dan begitu pula rumah tangga Anda.

 

Sumber : Jawaban.com


Tinggalkan komentar

*
*